bookmark at folkd Cerpen: Perempuan Dalam Sketsa - Ningspara

Breaking

Informasi, resensi, review buku-buku dan Produk Lainnya & Tempat membaca cerpen

Pages

Sunday, March 25, 2018

Cerpen: Perempuan Dalam Sketsa

Karena penjara seharusnya ada untuk orang-orang yang pernah berbuat jahat 
Cerpen: Perempuan Dalam Sketsa oleh Nings S Lumbantoruan
Sumber: Pinterest

Cerpen: Perempuan Dalam Sketsa. Kapan terakhir kali kita bertemu? Malam ini? Kapan paling terakhir kita akan bertemu? Setahun, dua, atau tiga tahun lagi? Ada 106 lembar jenis resah dalam surat yang pernah kau kirimkan. Dan resah itu tidak pernah berakhir hingga detik ini. Mungkin dia akan abadi dalam rasaku yang tak semua orang mengerti. Meski kau kini berdua dan aku ber-107. Aku dan 106 surat itu masih menginginkanmu. Aku menginginkan pundakmu dan surat itu menunggu kapan mereka dibacakan bukan kubaca sendirian. 106 surat itu kan semuanya puisi. Jadi tidak enak kalau puisi hanya dibacakan sendirian tanpa pendengar apalagi hanya dibaca dalam hati. Pasti aneh rasanya. Puisi itu seharusnya memiliki pendengar seperti halnya pidato. Puisi juga bukan novel 17++ yang membutuhkan pembaca hening.

Oya, kau masih ingat tentang surat pertama? Surat itu berupa puisi empat bait yang diawali dengan kalimat, 'You set me free.' Dan ketika kemudian Ben Sihombing membikin lagu dengan judul yang sama, aku teringat akan puisi itu, aku hampir menangis.

Katamu kalimat pertama itu adalah tentang aku dan cinta yang membebaskanmu. Tak pernah kau temui cinta yang begitu sebelumnya. Yang membebaskan. Selama ini kau hanya pernah menemukan cinta yang telah beku dalam sebuah lukisan pensil perempuan bertuliskan : (†) 2003.

Itulah kesalahan terbesar yang pernah kubuat. Membiarkan cintamu membeku di sana. Di foto itu. Aku lupa bahwa sesuatu yang membeku, sekeras apa pun, pasti suatu saat akan mencair. Seperti kutub Utara dan kutub Selatan yang dihianati global warming. Mengizinkan foto itu ada di antara kita seperti guling di antara sepasang suami istri yang sedang tak baik. 

Hingga suatu malam, foto itu berbisik, “Cinta itu bukan soal kebebasan. Tetapi tentang kesetiaan, pengharapan, penantian.” 
Dua kalimat itu telah menjadi kalimat yang kubenci seumur hidup. Kau tahu, aku benar-benar membencinya. Sebuah wanita dalam sketsa pensil telah membuatku muak dengan kata “setia”, “harapan”, “menanti”. 

Kau menangis. Bukan karena bersedih hendak meninggalkanku atau merasa akan kehilanganku. Tetapi kau memangis karena pernah menghianati wanita di foto itu. Sayang.. (masih pantaskah kau kupanggil sayang?). Kenapa kau rela melukai makhluk hidup demi benda mati? 

Daun-daun menari gasak. Entah dedaunan itu sedang tertawa-tawa atau sedang marah melihat kita berdua duduk tak lagi berdekatan. Aku yang tanpa ekspresi  melihatmu yang sedang tertunduk dan menangis. Berulang kali kau menghalau ingus. Kau seperti bocah laki-laki malang yang duduk di sebuah kereta dan ditinggalkan oleh ibunya. Aku kasihan sekaligus marah. Mungkin lebih parahnya jijik.

“Pergilah.” 
Meski tak rela, kalimat itu kukatakan juga. “I set you free”

Aku membebaskanmu. Am i? Am i really set him free? Kalo iya, berarti ini untuk yang kedua kali. Pertama, aku membebaskanmu dari sketsa itu. Kedua, aku membebaskanmu dari diriku untuk dan demi kau yang tergila-gila pada foto itu. Dan kuingat, kau belum pernah mengucapkan terimakasih. Oya, sebelum pembebasanmu yang kedua ini, aku sudah memiliki 100 suratmu. Baik surat puisi maupun tanpa puisi. Hanya gambar sebuah permen-perpen dan kancing-kancing berbentuk hati yang kau gambar berwarna-warni. Semuanya itu kau kirimkan atau berikan langsung dalam bentuk surat. Kenapa kukatai mereka surat? Karena semuanya lengkap dengan amplop. 

“Aku hanya tidak bisa melakukan ini. Kau tahu dia sangat mirip denganmu. Aku...” Kau pun menangis. Ya, wanita dalam sketsa itu memang sangat-sangat mirip denganku.
Itu salah satu dari sekian kalimat dan kenyataan yang paling kubenci di dunia ini setelah kalimat-kalimat lain dari orang-orang bodoh. Misalnya: Diperbolehkan membunuh orang-orang yang tidak sejalan dengan kita.

Setelah pembebasanmu, kau mengirimkan enam buah surat. Hanya dua di antaranya pernah kubaca. Berupa permintaan maaf yang bagiku tak layak dibahas bahkan tak layak dikenang. Kau tak perlu minta maaf. Tidak seorang pun di dunia ini perlu meminta maaf apabila dia tidak merasa salah. Atau dia tidak pernah berencana merubah dirinya, mengubah kesalahannya menjadi pelajarang berharga. Merubah diri dengan tidak lagi mengulangi kesalahan. Bahasa kerennya adalah ‘bertobat’. Kalau kau meminta maaf untuk seseorang hanya karena merasa kasihan, tidak perlu kau lakukan itu. Kau paham kan maksudku? 

*
Kita bertemu malam ini. Apa ini akan jadi pertemuan terakhir kita? Bumi itu sempit karena bentuknya bulat dan tak bertepi. Dua orang yang masih hidup memiliki kemungkinkan akan bertemu sekian persen. Meski kecil, setiap kemungkinan itu pasti selalu ada. Bila ini pertemuan kita yang terakhir, ingin rasanya memelukmu. 
Kau itu serupa senja yang pergi dan tersesat sekian lama dalam gelap. Meski hilang, kau tetap dirindukan oleh seseorang sepertiku yang sampai saat ini tidak paham bagaimana cara berpikirmu. Kau tahu itu? Kini kau di sini. Apa kini kau di sini karena telah menemukan jalan pulang? Atau?
Jangan enggan bicara, Sayang. Tak seorang pun tega mengusir seseorang yang pulang karena rindu. Tak seorang pun tega melukai seseorang yang datang dengan kejujuran. Sini, beri tahu aku sesuatu yang membuatku memaafkan kata maaf yang tak pernah kau ucapkan. 
Biar kuberi contoh. Mana tahu kau bingung. Sebutkan saja, “Aku merindukanmu.” Atau, “Aku akan membakar sketsa pensil sialan itu.” Atau “Mulai saat ini aku akan menjadi penyair pribadimu, membacakan dan mengulangi semua puisi setiap malam sebelum pagi datang.”
Ah, kau tak bicara. Kenapa kau tak pergi dari sini. Sekarang! Bercintalah kau dengan selembar foto itu. Mungkin dengan begitu kau akan punya anak-anak foto yang jago selfie, yang tersenyum selamanya. Sebuah foto yang bisa kau bawa kemana saja. Yang akan mendengarkanmu tanpa perlu marah apabila kau salah. 
*

Aku meninggalkan lelaki bodoh itu. Tidak ada gunanya mengajarkan kebebasan pada sepatung hati yang tidak tahu kegunaan bibir bagi tubuh. Tidak ada gunanya mengajarkan kebebasan bagi orang-orang yang suka dipenjara. 

Tetapi dedaunan yang kini telah gugur pun tahu, bahwa kini aku telah membeku dalam sepotong hati lelaki bodoh, yang kehilangan dirinya dalam selembar sketsa foto wanita. Wanita itu telah meninggal tahun 2003. Waktu wanita itu meninggal, aku orang kedua yang paling menangis setelah lelaki bodoh itu. Bukan hanya lelaki itu yang kehilangan kekasihnya, aku juga kehilangan saudari kembarku.

Hanya satu doaku, “Tuhan, sampaikan pada wanita itu untuk membebaskan hati lelaki bodoh itu untukku. Karena penjara seharusnya ada untuk orang-orang yang pernah berbuat jahat.”
Saudariku, kirimkanlah kebebasan dari surga untuk kami. Besok ketika aku bertemu dengan lelaki bodoh itu, dia telah mencair atau hatiku yang telah bisa lepas darinya. 

Mungkin beginilah arti dari kata takdir. Kebaikan katanya akan pulang pada kebaikan. Seorang wanita baik akan menemukan jodohnya seorang lelaki baik pula. Aku dan lelaki bodoh itu? Dia yang menjadi bodoh karena cinta mati pada seorang gadis di sketsa. Aku yang menjadi bodoh karena mencintai lelaki bodoh. Kami berdua bodoh kan? Kenapa kami tak berjodoh? Di dalam kasus ini, bisa kukatakan takdir tak adil memperlakukanku.

Aku bukan tidak bahagia. Tetapi tidak tahu caranya jika tanpa mencinta.

Cerpen: Perempuan Dalam Sketsa oleh Nings S Lumbantoruan
My Drawing: A girl in sketch

Baca juga: Menunggumu di EIS Coffe Cafe Pontianak

No comments:

Post a Comment