bookmark at folkd CERPEN: Pandangan Kilat dan Jebakannya - Ningspara

Breaking

Informasi, resensi, review buku-buku dan Produk Lainnya & Tempat membaca cerpen

Pages

Monday, April 23, 2018

CERPEN: Pandangan Kilat dan Jebakannya

CERPEN: Pandangan kilat dan jebakannya. Topik yang ingin kubahas pagi ini adalah tentang pandangan kilat dan jebakannya. Tentu saja kau telah tahu karena itu adalah judul cerita ini. Eh, tunggu dulu, aku ingin memberitahumu kalau ini bukanlah pagi. Aku menulisnya begitu karena aku ingin kau mengira kalau aku adalah seorang yang rajin atau sering disebut morning people oleh orang-orang yang menurut kita keren hanya karena mereka memakai bahasa yang paling banyak dipakai di dunia: bahasa Inggris (Padahal kalau banyak dipakai, artinya dia pasaran?). Kembali lagi ke topik kita. Ini adalah tentang pandangan, jadi berhubungan dengan mata. Mata adalah sebuah kata benda.  Biasanya ada dua dalam tubuh makhluk hidup tingkat tinggi yaitu hewan dan manusia. 

CERPEN: Pandangan Kilat dan Jebakannya Cerpen Pandangan Kilat dan Jebakannya bercerita tentang seorang laki-laki Batak yang dilarang ibunya menikah dengan seorang perempuan bukan Batak.

Mata sering membuat kita salah. Salah tingkah, salah tanggap, salah tafsir. Aku memang belum pernah ikut kursus cara membaca bahasa mata. Kalaupun aku ikut, mungkin aku akan mendapatkan nilai F, lebih rendah dibandingkan nilai Kimia Organik-ku di kampus dulu. Ini nilai terburuk karena aku akan kalah sebelum berperang. Aku tidak akan bisa menatap matamu. Aku hanya mampu memandangnya secara sekilas. Itulah jebakan yang ingin kuceritakan di sini. 

Jebakan itu berasal dari perasaan ingin memiliki yang barang kali tidak direstui Tuhan. "Anakku, jangan menyukainya. Kehendak-Ku tidak demikian." Mungkin seperti itu kalimat Tuhan. Tetapi karena Tuhan itu Maha Penyanyang terutama pada orang yang sedang jatuh cinta, suara-Nya sangat pelan, mengalahkan suara detak jantung dan suara aliran darah di nadiku setiap kali berpapasan dengannya. Atau, kemungkinan kedua adalah, sebenarnya suara Tuhan sudah kudengar, tetapi seolah-olah aku salah mendengar dan masih mempertanyakan yang sudah jelas itu dengan pertanyaan, "Tuhan, benarkah Engkau tidak berkehendak pada kebersamaan kami?"

Aku memang tidak pernah berniat menatapmu lama-lama. Maksudnya, terutama agar aku tidak terperangkap dalam sinarmu yang kemilau dan akhirnya aku tersesat di sana. Aku ingat kapan pertama sekali aku menatapmu lama. Ketika menyebutkan nama lengkapku yang terdiri dari 4 kata. Sebenarnya namaku hanya 2 kata saja. Tetapi karena kami dilahirkan dalam suku Batak, dan marga kami lebih penting daripada nama kami, maka marga harus selalu ada di belakang nama. 

CERPEN: Pandangan Kilat dan Jebakannya Cerpen Pandangan Kilat dan Jebakannya bercerita tentang seorang laki-laki Batak yang dilarang ibunya menikah dengan seorang perempuan bukan Batak.

"Fidelis Trisna Lumban Raja," kataku. 
Kau mendongak. Aku tahu respon itu sama seperti respon orang-orang pada umunya. Mereka sering merespon namaku dengan kalimat "Wah. Panjang sekali namanya." Kalimat itu walau hanya ada di kepala, aku tahu mereka memikirkan kalimat itu. Mungkin tidak mengutarakannya karena segan dan menjaga perasaanku. Dia melihat kertas lamaranku untuk kembali memastikan. Lalu mengangguk-angguk.

Yang tidak pernah kuketahui adalah pandangan itu. Pandangan jebakan yang membuatku terperangkap di dalamnya. 

Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama itu, dia akhirnya bicara, "Oke, kita mulai wawancaranya."

Aku akhirnya lulus, diterima sebagai pegawai di mana kamu sebagai HRD-nya. Inilah yang selalu jadi pertanyaanku pada takdir. Bila aku memang tidak seharusnya menyukai dia, kenapa aku diijinkan Tuhan diterima bekerja di sini? Seharusnya aku tidak diterima. Setiap kali aku ingin mengiriminya pesan whatsapp, aku lalu mengingat ibu.

"Ibu hanya punya satu permintaan sebelum kau merantau dan meninggalkan rumah ini. Janganlah kau mengambil boru sileban jadi menantuku. Boru Jawa, boru Sunda atau boru Cina. Ingatlah, kau anak sulung. Kau harus menjadi teladan bagi adik-adikmu. Hargai dirimu dan keluarga kita."

Entah kenapa waktu itu aku mantap dan mengangguk. Seandainya tidak, aku tidak bisa dikatai sebagai seorang yang melanggar janji pada ibu. Waktu tak bisa diulang. Hanya bisa disesali.

"Fid. Ada syukuran kecil-kecilan di rumah. Adikku mau berangkat ke Jerman. Sebenarnya ini acara keluarga sih. Tapi kayaknya seru aja kalau kamu ikut."

"Fid. Ada rencana nonton A Quiet Place?"

"Fid. Ada Soesilo Toer ke sini, minggu depan. Mereka ngadain seminar. Mau pergi? Kan kamu suka Pram."

Dan pertanyaan lain yang serupa, yang selalu kujawab tidak walaupun jawaban sebenarnya adalah iya.

Ada keterbatasanku. Ada sinar dari matamu yang menjadi jebakan. Ada janji pada ibu yang menahan.
Kau seolah-olah ingin bersandar di bahuku, tetapi aku tidak ingin memberinya. 
CERPEN: Pandangan Kilat dan Jebakannya Cerpen Pandangan Kilat dan Jebakannya bercerita tentang seorang laki-laki Batak yang dilarang ibunya menikah dengan seorang perempuan bukan Batak.

Cerpen Pandangan Kilat dan Jebakannya bercerita tentang seorang laki-laki Batak yang dilarang ibunya menikah dengan seorang perempuan bukan Batak.

No comments:

Post a Comment